So I decided to start writing letters, to anyone...

Sometimes Susan, Roselin, or Erie writes but most of the time, it's Fida. mail

Sunday, 26 April 2009

Belanda dan Komunitas Global




Tiga hari yang lalu saya lagi blogwalking tiba-tiba saya nemu blog ini, ada satu postnya berjudul "Netherland". Ternyata, post itu buat kompetiblog semacam kompetisi untuk membuat tulisan bertema, "Studi di Belanda, ticket to a global community" yang hadiahnya belajar di Belanda selama 2 minggu. So why don't we take the chance?

Global, global, global dan global. Dua tahun belakangan ini sering sekali saya dengar kata itu: global dan globalisasi. Bayangan saya tentang global dan globalisasi cuma orang- orang dunia menjadi satu. Waktu Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan meluncurkan program "Visit Musi 2008", guru kimia saya di SMA bilang kalau nantinya di tahun ke depan, di era globalisasi, orang- orang dari negara lain lebih mudah datang ke Indonesia. Administrasinya lebih mudah, begitu katanya. "Wow, berarti kita bisa kenalan sama banyak orang luar negeri!" itu yang ada di pikiran saya saat itu. Bisa blend in dengan masyarakat dari negara lain, membentuk sebuah komunitas.

Komunitas global. Lagi, dalam bayangan saya, komunitas global adalah kumpulan manusia dari berbagai belahan dunia dengan budaya yang berbeda bergabung menjadi satu. Saling berinterkasi satu dengan yang lain. Tahun 2004 waktu saya masih SMP, saya belajar di Perth selama 2 tahun. Disana saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia mulai dari Somalia sampai Albania. Kita saling tukar pikiran dan memperkenalkan budaya masing- masing. Dan menurut saya, ini yang dinamakan komunitas global, walaupun masih taraf anak SMP. Komunitasnya kecil tapi ide "orang-orang dunia jadi satu" sudah sedikit nyata.

source: own collection

Belanda dan Komunitas Global. Negara- negara di Eropa banyak dijadikan tujuan studi masyarakat dunia, tidak ketinggalan Belanda. Banyak pelajar atau mahasiswa dari berbagai belahan dunia datang ke negeri ini untuk menuntut ilmu dan mereka membawa kebudayaan mereka yang beragam. Dari sini, saya rasa kita bisa memulai satu komunitas global. Berinteraksi dengan masyarakat dari negara lain, saling bertukar pikiran dan mendalami kebudayaan masing- masing. Kita bisa berkomunikasi secara terbuka dengan masayarakat dari negara lain, bertukar pikiran tentang hukum, politik, ekonomi, sampai kuliner. Belanda adalah fasilitator. Komunitas global bisa dimulai dari sini.

3 comments:

  1. sorry fida, i don't understand anything! curse my defective indonesian skills. ==

    ReplyDelete
  2. it's okay nida.
    lol :)
    are you on?

    ReplyDelete
  3. ceritain donk tentang perth ... salam kenal dari sesama peserta kompetiblog :-)

    ReplyDelete